Tidak menyangka ternyata kita telah memasuki Bulan Dzulhijjah banyak amalan ibadah sangat puooool di bulan ini yang bisa kerjakan, sebagai tabungan amal di acherat kelak serta dapat meninggikan derajat kita di surga ,(apa itu??):
1. Puasa Yaumul Ashuro' [9 dzulhijjah / Insya Alloh hari Kamis, 26 November 2009]
"Shiamu yaumil arofah ahtasibu alalloh ayyukaffiro sanattan allati koblahu wassanatalati ba'dahu, washiyamu yaumi assuro'a ahtasibu alallohi ay'yukaffiro sannatalati koblahu"
: Puasa Hari arofah aku (Nabi Muhammad SAW) mencari pahala atas alloh menghapus dosa satu tahun sebelum dan sesudah puasa, dan Puasa hari assuro aku (Nabi Muhammad SAW) mencari pahala atas alloh menghapus dosa satu tahun sebelum puasa. (HR. Muslim)
2. Ibadah Qurban, [10 DzulHijjah / Insya Alloh hari Jum'at, 27 November 2009]
"Ma amila addamiyyun min amalin yaumil nahr ahabba ilalloh min ikhroki dam innaha la ta'ti yaumal khiyammah bikhuruniha wa ass'ariha wa athlafiha wainna dama layakhou minalloh bimakkani khobla ayyakhoa minnal'ard fatibubiha nafsaa"
: Tidak ada amalan bani adam yg lebih di senangi di hari nahr bagi alloh dari pada mengalirkan darah (Berqurban), Sesungguhnya hewan qurban niscaya datang pada hari qiyamat dengan tanduk nya, rambut/buku nya, kuku/teracak nya, dan sesungguhnya darah qurban niscaya jatuh pada alloh (alloh menerima amalan qurban) sebelum darah itu jatuh ke bumi, maka bersenang -senang lah dgn hewan qurban.(HR. Tirmidzi)
Alkisah:
Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Isma'il tercinta dalam surat Al-Shafat, ayat : 102-109. Kisahnya begini; Nabi Ibrahim berkata kapada Nabi Ismail : "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?"
Nabi Ismail menjawab seketika dengan tenang dan penuh keyakinan : "Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, kau akan mendapatkanku - insya Allah - termasuk orang-orang yang sabar".
Allah kemudian bercerita :
"Tatkala keduanya telah berserah diri (tunduk pada perintah Allah) dan Ibrahim membaringkan anaknya (pelipsnya menimpel di atas tempat penyembelihan), Kami segera memanggil (dari arah gunung) : wahai Ibrahim, Sudah kau benarkan (dan kau laksanakan) apa yang kau lihat dalam mimpimu itu, sesungguhnya demikinlah Kami memeberi balasan (kepadamu) dan juga kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh (perintah penyembelihan ini) adalah benar-benar ujian (bagi Ibrahim, di mana dengannya terlihat dengan jelas siapa yang ikhlash dan siapa yang tidak). Dan kami segera menebus anak (yang akan disembelih itu) dengan seekor sembelihan yang besar. Pun Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Salam sejahtera (dari Kami) buat Ibrahim, dan sebutan yang baik baginya (dari setiap manusia)"
Hikmah yang perlu kita ambil:
a. Kepribadian Nabi Ibrahim, yang demikian total menunjukkan ketaatannya kepada Allah. Tidak terlihat dalam sikapnya sebuah keraguan, atau keberatan. Begitu menerima perintah dari Allah untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail, - anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya sekian lama sampai ia mencapai usia tua - Nabi Ibrahim langsung mendatangi Ismail dan menyampaikan perintah tersebut. Padahal secara psikologis Nabi Ibrahim sungguh sangat membutuhkan seorang keuturunan. Bayangkan, di tengah pengembaraan yang jauh, di sebuah lembah padang sahara yang kering, tanpa pohonan dan tanaman, Nabi Ibrahim hidup. Ditambah lagi usianya yang memang sudah sangat mebutuhkan seorang anak muda untuk menopang ketidakmampuannya. Tapi lihatlah, totalitas penyerahan diri Nabi Ibrahim kepada Sang Pemilik Bumi dan langit.
b. Kepribadian Nabi Ismail, yang benar-benar memahami keaguangan perintah Allah. Artinya bahwa perintah itu harus segera dilaksanakan. Tidak usah ditawar-tawar dan ditunda-tunda lagi. Seketika ia berserah diri dengan penuh kesabaran. Sungguh ungkapan Nabi Ismail dengan panggilan "yaa abati" mengekspresikan kecintaan nabi Ismail dan kedekatannya kepada sang ayah, pun juga kepasrahan totalnya terhadap perintah Allah, dimana dengan ungkapan itu tergambar dengan jelas bahwa ia tidak merasa kaget sama sekali. Melainkan langsung menerimanya dengan lapang dada dan penuh kepasrahan.
c. Sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang tanpa banyak bicara dan diskusi dalam menerima "isyarat" yang terlihat dalam mimpinya "ru'ya", di mana kaduanya langsung bergerak menuju tempat penyembelihan. Nabi Ismail langsung berbaring, meletakkan pelipisnya ke bumi. Nabi Ibrahim langsung bergerak untuk menyembelihnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengharukan. Dan dari peristiwa itu terlihat dengan jelas hakikat kepasrahan dan ketaatan yang hakiki dari kedua hamba tersebut, kepada Allah, Tuhannya. Allah seketika menyaksikan kesungguhan kedua hamba itu dalam mentaati perintah-Nya. Allah berfirman "qad saddaqta ru'ya", kau telah membenarkan "ru'ya" itu (wahai Ibrahim), dan kau telah melaksanakannya. Allah seketika pula menggantikan Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Sebab yang paling utama dari hakikat qurban ini, adalah sejauh mana tingkat kepasrahan sang hamba kepada Allah SWT, dan sejauh mana tingkat ketaatannya kepada-Nya, sejauh mana tingkat ketabahannya dalam menjalani ajaran yang telah Allah tetapkan.